Membuka Tirai yang Tertutup…
Tirai yang sudah lama tertutup malam ini
seakkan kembali terangkat, memainkan Dream
Theater masa lampau. Masa yang hampir terlupa, layu, lusuh dan tertutup
oleh lembar-lembar episode kenangan. Semua kisah seakan di mainkan ualang dalam
imaji seorang lelaki patah, menyisakan sedikit sesal di dalam setiap episode
yang di mainkan.
Dahulu seberapa tinggi angan tersebut terbang
tinggi, seberapa besar samudera kasih itu terhampar. Kini angan itu masih tetap
terjunjung tinggi dan masih terhampar samudera kasih yang luas, hanya saja sang
fana telah menunjukan betapa gagah dan kuat nya mereka. derik demi derik pasir mencoba menutup kisah di tepian karang
yang selalu ter isak di semenjana hati, menanti sebuah kuas menyapu dan
membersihkan goresan di tepian karang.
Terkadang jiwa ini telah merasa keluh dan lelah
menunggu, namun di dalam lubauk terdalam selalu ada yang berbisik “ bertahan
lah, semua ini adalah bagian dari kisah indah di akhir episode, bertahan lah
tinggal sedikit lagi”. Seperti ucapan seorang bocah di dalam almari mimpi
beberapa bulan silam “ Kak..!! sabar yah, yang sabar.. tinggal sedikit lagi,
tinggal sedikit lagi”. Tangan-tangan mungil bocah ini memegang erat pakaian
yang kukeanakan dalam mimpiku, seakan tidak mengijinkan aku untuk beranjak dari
sepi. Sebuah mimpi yang entah menjadi petanda baik atu buruk, namun berhasil
menahan aku untuk tidak pergi dari kupu-kupu musim semi ku, yang bersimfoni
bersama deru ombak dan badai kehidupan.
Dalam setiap imaji lelaki patah, selalu
berfikir dapatkah suatu hari nanti ranting patah bersimfoni bersama kupu-kupu
nya..?, bersimfoni dalam musim semi yang indah, membangun sebuah istana penuh
mimpi dan harapan, membangun sebuah kamar penuh do’a, membangun sebuah taman
dengan hamparan butir-butir mutiara dzikir, dan meyiram setiap tanaman kalbu
dengan sejuk nya air mata syukur. Sebuah mimpi yang selalu dan ingin untuk di
wujudkan lelaki patah di dalam setiap tidur panjang nya, di dalam setiap sujud
dan di dalam setiap denyut nadi.
Mimpi-mimpi indah taman amahara itu memang
terasa masih sangat jauh, ranting kering dan patah bukan sebuah objek yang bila di pandang dapat
menyejukan mata, bukan pula menenang kan hati, hanya sebuah bagian terbuang
dari pohon rindang. Namun bila kupu-kupu hinggap padanya saat musim semi,
ranting yang patah dan kering dapat menjadi penyejuk fikiran, penyembuh jiwa
dan segala kesedihan.
Kini ranting patah hanya bisa menangis untuk
mengobati segala kesdihan dan kepedihan di dalam jiwa nya karena air mata dapa
mengobati segala kesedihan dan kepedihan . Semakin banyak ia meneteskan air mata,
semakin bertumbuh dewasa , ia semakin
menyadari bahwa suatu hari akan banyak hal yang tidak bisa di obati oleh air
mata. Suatu hari akan ada tangan-tangan lembut yang akan mengusap air mata,
suatu hari aka nada bahu yang kokoh nan lemut, yang akan menopang di saat
lelah, suatu hari..akan ada hari-hari di mana mimpi menjadi nyata, dan ranting
terlihat menyejukan jiwa.
amin ya rabbal alamin, semangat kakak :-), semoga doa nya terkabul
BalasHapusok makasih...
BalasHapus