Sebuah Langkah
Inggin aku ucapkan rindu kepada dada langit, sebelum
sang surya menjelang senyuman di hari yang baru. Sebelum cahaya menampar tampan
wajah hari, menerikan sebuah puisi dalam lembaran haru biru hari mendatang. Sebuah
kerinduan di atas tumpukan mimpi imajiner yang sudah tertahan menjadi basrisan
kata dalam setiap puisi di penghujung do’a dan setiap sujud ku.
Keluh bibir lidah ini untuk berucap, terkunci mulut
ini dengan nanar dan bergetar menyebut nama Nya seblum menyebut naman mu. Banyak
untaian bintang di langit yang ingin di uangkapkan, namun apa daya dia, dia
lelaki itu, aku lelaki itu hanya terus berlari sambil tersenyum dalam
hayal namun selalu menahan tegar di
pelupuk mata. Semua kenangan seakan kebali tertulis dan terpahat di penghujung
hari menuju senja yang di harapkan dalam sebuah labuhan dalam sebuah sandaran
mimpi.

