Simponi Senyum Dari Dalam Hati The True Story Begin: part 17


 Akankah Sang Simponi Memberiku Kesempatan 
Untuk Membahagiakan Senyum itu




Kembali tertulis kisah di atas selembar memori jiwa yang Lengang, betapa tak ada apa-apanya aku di depan mu, itu lah yang aku rasakan setelah kejadian di hari itu, kau kembali membukaan mata ini, betapa hebatnya engkau, kau berhasil mengembalikan memori jiwa mulia yang telah lama aku lupakan, jiwa itu adalah bergai dengan seasama. Tibalah aku di sebuah tempat yang amat megah di persimpangan Sukasari, indah Nampak di pandang mata namun di balik keindahan itu ternyata sebuah kenyataan pahit tertanam, betapa saudara kita mengais rupiah di bawah naungan lampu merah.
Aku iri dengan semangat dan keikhlasan mereka walau dengan keadaan yang serba sulit, mereka masih tetap bisa tertawa dan dengan bangga berkata “  Aku sudah Tidak Punya Ayah”, Subahanaullah….!, dengan memeluk mereka seperti memeluk saudara ku sendiri, dengan menatap merreka mengingatkan ku dengan masa kecil ku Ya Allah aku beruntung, dan dengan melihat semangat mereka aku tak kuasa menahan
air mata ku.
Penat memang terasa lelah menyerang tubuh ini, namun mereka takbisa melumpuhkan hati dan semangat ku. Hingga tiba di persimpangan waktu aku bersama empat orang rekan ku pulang setelah uasai mengajari mereka, saat kami mengajar Nampak indah keangkuhan Kota ini tiada yang peduli pada mereka, jangan kan peduli melirik pun mereka enggan. Smpai lah aku di tempat ku beristirahat selama di Bogor. Aku bersihkan diri dan merenung di tengah kegelapan malam, sambil mengingat memori itu aku mulai melepaskan air mata ku ke bumi ini, alangkah tak bersyukur nya aku, Aku terlalu sering lalai, aku masih sangat lemah untuk mengmban semua Amanah ini, Seringkali aku mengeluh akan hal2 sepele dalam hidup ku, tapi mereka…! Di usia yang sangat Muda, tetap bisa tegar dan tersenyum. Tak dapat aku tahan air mata ini atas segala kerapuhan ku, atas keangkuhan Kota ini, dan atas Kekufuran ku terhadap nikamat mu ya allah…!
Semakin lama aku berfikir semakin Peluh ari mata ini, aku merasa sangat beruntungk, karena telah mencintai mu Kh dengan mecintaimu akuu bisa menjadi lebih baik, dengan mencintai mu aku bisa berguna bagi orang lain, dengan mencintai mu aku bisa banyak belajar tentang arti sebuah kikhlasan. Aku sangat bahagia karena pernah menyayangi sang simponi senyum ini  KH, sekalipun rasa ini takkan pernah terungkap dank au takkan pernah tau, aku akan tetap menjaga Rasa sayang ini hingga Nafas ini benar-benar usai.
Betapa hebatnya engkau, beatapa luar biasanya hati mu itu, aku mohon biarkan lah aku hidup bersama nafasmu, nafas yang membawakedamaian. Engaku telah banyak mengajarkan aku tentang kebaikn, walau hanya lewat sebuah senyuman engkau sungguh sangat luar biasa, kini dapat aku katakana dengan bangga bahwa aku menyayngi mu Kh. Biarkan lah aku  menatap jauh kedalam hati mu yang damai itu, biarkan aku mencoba untuk mengisinya. Akankah sang simponi memberiku Kesempatan untuk membahagiakan Senyum itu.
Senin 26, Desember 2011
Pukul 01: 58 

0 Response to "Simponi Senyum Dari Dalam Hati The True Story Begin: part 17"

Posting Komentar

Flag Counter