Akankah Sang Simponi Memberiku Kesempatan
Untuk Membahagiakan Senyum itu
Kembali
tertulis kisah di atas selembar memori jiwa yang Lengang, betapa tak
ada apa-apanya aku di depan mu, itu lah yang aku rasakan setelah
kejadian di hari itu, kau kembali membukaan mata ini, betapa hebatnya
engkau, kau berhasil mengembalikan memori jiwa mulia yang telah lama aku
lupakan, jiwa itu adalah bergai dengan seasama. Tibalah aku di sebuah
tempat yang amat megah di persimpangan Sukasari, indah Nampak di pandang
mata namun di balik keindahan itu ternyata sebuah kenyataan pahit
tertanam, betapa saudara kita mengais rupiah di bawah naungan lampu
merah.
Aku
iri dengan semangat dan keikhlasan mereka walau dengan keadaan yang
serba sulit, mereka masih tetap bisa tertawa dan dengan bangga berkata
“ Aku sudah Tidak Punya Ayah”, Subahanaullah….!, dengan memeluk mereka
seperti memeluk saudara ku sendiri, dengan menatap merreka mengingatkan
ku dengan masa kecil ku Ya Allah aku beruntung, dan dengan melihat
semangat mereka aku tak kuasa menahan
Penat
memang terasa lelah menyerang tubuh ini, namun mereka takbisa
melumpuhkan hati dan semangat ku. Hingga tiba di persimpangan waktu aku
bersama empat orang rekan ku pulang setelah uasai mengajari mereka, saat
kami mengajar Nampak indah keangkuhan Kota ini tiada yang peduli pada
mereka, jangan kan peduli melirik pun mereka enggan. Smpai lah aku di
tempat ku beristirahat selama di Bogor. Aku bersihkan diri dan merenung
di tengah kegelapan malam, sambil mengingat memori itu aku mulai
melepaskan air mata ku ke bumi ini, alangkah tak bersyukur nya aku, Aku
terlalu sering lalai, aku masih sangat lemah untuk mengmban semua Amanah
ini, Seringkali aku mengeluh akan hal2 sepele dalam hidup ku, tapi
mereka…! Di usia yang sangat Muda, tetap bisa tegar dan tersenyum. Tak
dapat aku tahan air mata ini atas segala kerapuhan ku, atas keangkuhan
Kota ini, dan atas Kekufuran ku terhadap nikamat mu ya allah…!
Semakin
lama aku berfikir semakin Peluh ari mata ini, aku merasa sangat
beruntungk, karena telah mencintai mu Kh dengan mecintaimu akuu bisa
menjadi lebih baik, dengan mencintai mu aku bisa berguna bagi orang
lain, dengan mencintai mu aku bisa banyak belajar tentang arti sebuah
kikhlasan. Aku sangat bahagia karena pernah menyayangi sang simponi
senyum ini KH, sekalipun rasa ini takkan pernah terungkap dank au
takkan pernah tau, aku akan tetap menjaga Rasa sayang ini hingga Nafas
ini benar-benar usai.
Betapa
hebatnya engkau, beatapa luar biasanya hati mu itu, aku mohon biarkan
lah aku hidup bersama nafasmu, nafas yang membawakedamaian. Engaku telah
banyak mengajarkan aku tentang kebaikn, walau hanya lewat sebuah
senyuman engkau sungguh sangat luar biasa, kini dapat aku katakana
dengan bangga bahwa aku menyayngi mu Kh. Biarkan lah aku menatap jauh
kedalam hati mu yang damai itu, biarkan aku mencoba untuk mengisinya.
Akankah sang simponi memberiku Kesempatan untuk membahagiakan Senyum
itu.
Senin 26, Desember 2011
Pukul 01: 58
0 Response to "Simponi Senyum Dari Dalam Hati The True Story Begin: part 17"
Posting Komentar