Hujan dan Payung Berwarna Ungu
Hujan akhir nya membuayarkan latihan mereka, sedikit ada perasaan kecewa karena
pada saat hujan turun ikhsan sedang asik-asik nya bermain sambil
berlatih dengan anak-anak itu. Ikhsan seperti mendapatkan saudara baru pada
diri anak-anak tersebut. Apa lagi dengan seorang anak yang bernama
Dian, Ikhsan merasa anak perempuan yang satu ini sangat mirip dalam
sikap dengan keponakan nya yang masih berusia empat tahun. Sambil
melangkah ikhsan memandang kelangit “ Kalau saja aku tidak malu, aku
sudah menangis sekarang, betapa mereka sangat ikhlash menerima ku
padahal aku adalah orang baru bagi mereka”. Ikhsan kembali melangkah
untuk segera berteduh dengan dada yang semakin terasa sesak.
Hujan
semakin deras saja bagaikan gemuruh air terjun yang mengalir dengan
deras dari langit. Mereka berteduh disalah satu rumah warga, yang sangat
serhana semakin mengingatkan Ikhsan terhadap kehidupan nya di desa yang
jauh dari kemewahan. Waktu itu ikhsan duduk tepat di sebelah kirani,
pada awal nya dia tidak mearsakan apapun namu lambat laun dia
memperhatikan kirani. Persaan
ikhsan semakin berbeda ketika berada sangat dekat dengan kirani, “ ini
tidak boleh terjadi aku tidak boleh punya persaan ini, dia terlalu hebat
buat ku dan aku menghormati nya”. Untuk kali ini ikhsan berhasil
meredam persaan yang aneh tersebut
.
Hujan
mulai reda dan merdunya adzan sudah mulai berkumandang akhirnya mereka
semua memutuskan untuk segera ke Masjid terdekatagar dapat segera
mencurahkan persaan sambil bersimpuh kepada Allah. Di perjalana air
tetap saja mengucur walaupun tidak sederas sebelum nya, jalanan yang
sempit dan licin menjadi kian sulit saja di lalui karena terguyur hujan.
Ikhsan mengeluarkan payung berwarna ungu dari dalam tas nya. Ingin dia
memberikan payung itu kepada Kirani namun Ikhsan merasa malu dan ragu.
Pada akhir nya Ikhsan memberanikan diri untuk memayungi Kirani, jadilah
mereka sepayung berdua sekarang.
Saat
seperti itu memang terlihat romantis, namun tak ada fikiran apa-apa
pada benak ikhsan pada waktu itu, yang dia pikirkan hanya lah bagai mana
Kirani tidak basah kuyup sampai di masjid, karena kebetulan jarak
masjid dari tempat tersebut masih cukup jauh. Sepanjang perjalanan
menuju kemasjid baik ikhsan maupun kirani hanya bisa tersenyum
masing-masing. Semua itu tak pernah terduga dan terbayangkan sebelum
nya. Mereka bisa berjalan berasam di tengah gemericik air hujan di bawah
sebuah payung berwarna ungu, sungguh suatu hal yang tidak di duga oleh
Ikhsan.
Setelah
berjalan cukup jauh, mereka akhirr nya sampai di tempat yang di maksud,
ini lah rumah Allah yang terlihat megah dengan cat berwarna hijau tua
serta beberapa jendela kacayang menghiasi di sekeliling nya. Di tambah
lagi dengan benayak nya Umat yang telah dan sedang bersimpuh di
hadapan-Nya, membuat pemandangan disana kian indah di pandang mata dan
sejuk dirasa oleh hati. Ikhsan segera bergegas mengambil air wudhu untuk
segera mensucikan diri sebelum mengadap sang Ilahi, untuk segera
mencurahkan persaan nya dan memberikan laporan atas apa yang telah dia
lakukan hari ini.
0 Response to "(J50K) Kupu-Kupu Berjilbab " Perjuangan Cinta, Cita dan Aamanah" Part: 10"
Posting Komentar