Gadis
itu membisu, seolah tak peduli dengan keadaan sekitarnya, ia hanya terpaku di
pojok ruangan kelas, ada yang menatap ke arahnya namun ia hanya terdiam sambil
menundukkan kepala dan menitikkan air mata.
Di perjalanan pulang pun gadis muda itu
dengan mata beningnya dan bulu mata yang lentik memandang lurus ke depan
melewati jalan-jalan kota yang mulai lengang. Sesekali ia mendengus sambil
terdiam dan menangis, ia
memainkan ujung tali tas yang belum sempurna lepas dari pundaknya, sambil
mengeluarkan secarik kertas yang disimpan
dalam ayat-ayat Al-qur’an. Dari bahasa tubuhnya terlihat jelas ia
sedang ada masalah, hatinya terluka karena seseorang,
seakan lelah bersabar dan menunggu pemilik rusuk yang selama ini
dicari, lelah menerka-nerka siapa pemilik tulang rusuknya apakah pemuda
itu atau sahabatnya, namun teringatlah olehnya sebuah janji
ilahi bahwa tulang rusuk
takkan pernah tertukar akan bersatu
bersama pemiliknya di saat dan di waktu
yang tepat. Gadis itu kembali
teringat kata-kata yang tak sengaja ia dengar dan itu membuat hatinya
terluka teramat dalam.