Selasa 15 april 2014 menjadi malam-malam tertakhir ku di
perkebunan batu ampar, tidak terasa dua bulan waktu telah berlalu begitu cepat.
Secerca asa dan harapan telah terbangun di sini, semua rencana indah telah di
tulis di dalam doa, dengan bermediakan sujud dihiasi tinta air mata. Setelah esok aku akan menghadapi dunia yang
sesungguh nya, dunia yang keras dimana aku tidak dapat lagi bergantung dengan
ayah dan bunda. Hari-hari dalam buayan itu tidak akan ada lagi, yang ada
hanyalah masa depan dalam gengaman tangan, akan terlempar ke jurang terdalam
atau akan senan tiasa terangkat menatap dada langit.
Kembali aku mencoba meyakinkan diri dalam sujud ku mala
mini, kembali aku mencoba mengukir bayang-bayang cerita 2 tahun lalu, bersama
seorang wanita idaman. Entah apa kabar dia di sana, sedang bahagia kah, sedang
sedih kah atau tengah gelisah. Dalam jiwa hanya berharap angina akan memberi
kabar, membawa cerita dari Java menuju Borneo, hanya dapat berharap gemericik
air laut ikut berdzikir menyampaikan rasa cinta. Aku coba meminta pada bulan
mala untuk sampaikan bahwa aku mencintai nya, aku bercerita pada
bintang-bintang agar mereka saling berbisik menyampaikan rasa rindu ku, namun
mereka hanya tersenyum dengan gagah nya di atas sana seakan berkata hal yang
tidak pasti.
Setiap malam aku selalu bernyaynyi dalam sunyi malam
menyampaikan ribuan harapan, berpeluh
dengan terik mentari membulatkan tekad, berlari dengan kencang nya angina untuk
mengejar bayang- bayang. Telah habis
ribuan kata aku ungkapkan hingga tak sepatah kata dapat aku ungkapkan, betapa
aku mencintai mu, dan betapa aku merindukan mu. Kini telah habis alasan ku
untuk pergi dari mu, telah habis daya ku untuk menjauh dari mu.
hingga hari ini
banyak yang bertanya apa alasan aku mencintai mu, apa alasan aku dapat bertahan
tanpa berita. Aku hanya selalu tertegun dan tak bisa menjawabnya, di karenakan
aku sudah kehabisan alasan untuk itu
semua, hingga akhir nya aku menemukan sebuah jawaban “ aku tidak butuh alasan untuk
mencintai mu “. Kembali kutulis rindu
dalam sebait do’a, ingin aku jadikan untaian puisi namun apa daya aku
bukan lah seorang pujangga, aku hanya lelaki terlupakan.
Satu malam aku coba berbincang dengan ayah dan bunda, telah aku ceritakan pada mereka
tentang mu, menceritakan sebuah kisah 3 bulan. Aku sampaikan bahwa putra mereka
ini telah menjatuhkan pilihan pada seorang wanita luar biasa, sepatah demi
sepatah kata telah di ucapkan membentuk untaian cerita hingga mengakhiri kisah
denga sebuah permohonan restu “ wahai waliku… putramu ini telah jatuh cinta,
boleh kah putramu yang masih bodoh ini mengatakan kejujuran ini kepada nya..?,
boleh kah putramu ini sekedar berusaha..?, boleh kah putramu ini sekedar
mengejar impian nya sebagai seorang muslim dan lelaki..?, boleh kah wahai wali
ku, aku menemui wali nya..?”. entah apa yang terfikir oleh ku…. Seorang lelaki
yang masih miskin untuk meminang seorang
putri raja yang di inginkan banyak pangeran.
Sejenak mereka terdiam, yang terdengar hanya suara hela
nafas yang kian kuat dan keudian menyusul gelak tawa dari seorang ayah sembari
berkata “ jika memang benar kamu mencintai mu wahai putraku, laksanakan lah
niat baik mu, karena sesnungguh nya hal tersebut adalah ibadah, namun jika dia
menolak mu jangan lah engkau bersedih dan lantas kehilangan arah hidup, hanya
itu pesan ayah untuk mu putraku”. Beberapa saat aku hanya terdiam dan menitikan
air mata, tak lama kemudain terdengar lembut suara seorang wanita itu adalah
ibu “ Wahai Putraku.. jika kamu yakin jangan pernah mundur, walaupun
kemungkinan terbesar nya adalah kamu akan di tolak tetap lakukan niat baik mu
ini, ibu akan selalu mendukung apapun keputusan mu, wahai putraku pastikan wanita yang kamu pilih adalah wanita yang
salihah, agar nanti bisa mengajari kedua orangtuamu ini, ibu ini sudah tua..
dan kamu tau wahai putra ku apa impian ibu mu yang telah renta ini?, impian ibu
hanya ingin melihat mu bersanding dengan wanita pilihan mu”.
Setelah ucapan berakhir tak kuasa lagi aku menahan air
mata, betapa bangga nya aku pada mereka ternyata seorang petani guram dan
tukang bangunan bisa berkata sedemikian bijak nya. Karena itu ya Allah..
biarkan aku berdiri di bawah sinar pagi, dan biarkan aku mengejar matahari.
Walau sudah taka da cinta untuk dari nya, aku akan terus berdiri untuk mengejar
impian ku.
0 Response to "Sebuah Permohonan"
Posting Komentar